Suamimu bukan Tuhanmu

  
“Mi, aku mau ketempat agus, ada meeting. Itu maro yah..” Sambil nunjuk maro anak keduaku yang sedang asik melihat youtube. 

“Iyaaa..!” Aku menjawab sedikit ketus Sambil menyuap adel yang juga terus berlariam kesana kemari.

“Heran deh..! Apa gak liat aku lagi kerpotan gini. Masih juga mau keluar.” Gumalku kesal 

Namun gumalanku hanya sampai di ujung tenggorokan, tidak sampai terucap oleh bibirku yang manyun. 

Lagi pula aku teringat juga pesan bu ainun agar tidak cerwet dan juga bawel. Jadi ya sudahlah. Aku terpaksa mengizinkannya meskipun setengah hati nggandoli. 

Entahlah, malam itu aku tidak bisa tidur. Setengah hatiku yang tidak rela mengizinkannya terus memberikan pembenaran. 

“Sudah tahu anak2 cuma ada waktu kalo malam. Apa gak bisa ketemu agusnya itu siang aja”

“Padahal kemarin malam juga udah keluar. sekarang keluar lagi”

“Ini kalo gak disentil sepertinya malah jadi kebiasan nanti keluar malam terus.”

“Sepertinya sekarang pekerjaan menjadi lebih penting dari keluarga.”

Hingga jam 3 pagi mataku belum juga terpejam. Beberapa menit kemudian diapun pulang.

Melihatku masih terjaga dia pun asik bercerita tentang pertemuannya tadi. Aku menanggapi dengan hambar. Jangan tanya kenapa. Suasana hatiku memang masih tidak karuan meskipun dia sudah berbaring disampingku.

“Kamu ada apa sih, kok jadi gini?” Tanyanya yang kemudian ketus melihat sikapku yang tidak biasa. 

“Pikir aja sendiri..!” Aku menjawab lebih ketus lagi, dan memeluk guling membelakanginya. 

Esok malamnya setelah anak2 terlelap dia mengajakku berbicara.

“Kamu ada apa sebenarnya? Kenapa tiba2 aku dicemberutin kayak gini?” 

“Kalo aku salah ya aku minta maaf, tapi apa? Kalo kamu gak ngomong ya aku gak tau mi.”

“Yah kamu sih, gak ngerti banget. Udah tau aku lagi repot nyuapin adel, malah pergi keluar. Mbok ya tolong bantuin jaga maro sebentar gitu” tetap saja aku ketus

“Owalaahhh….?!”sambil menghela nafas dia memukul ringan jidatnya. 

“Aku kan sudah izin, dan kamu mengizinkan, jadi aku pikir kamu baik2 saja”

“Masa kayak gitu aja gak ngerti. Pengertian sendirilah”

“Mi, aku ini hanya suamimu. Bukan Tuhanmu yang bisa selalu mengerti apa isi hatimu tanpa kamu ucapkan.” 

“Jadi kalo ada apa2 bicaralah. Jangan malah cemberut gitu. Memangnya enak ap dicemberutin.”

Hatiku mulai merunduk malu. Membenarkan kalimatnya yang membuatku tersadar apa yang kulakukan sudah salah telah menyakitinya.

“Maafkan aku” Sambil mewek 😢

Tinggalkan komentar